MATA adalah PENCURI

Suatu hari, Arnold mengatakan kepada temannya John, “Sungguh hari yang sial! Seekor nyamuk masuk ke mataku. Saya harus menghabiskan lima puluh dolar untuk ke spesialis mata.”

“Itu belum apa-apa.” John berkata, “Tadi siang satu baju terbang masuk ke mata istriku. Saya habis tiga ratus dolar! Ini sudah jauh lebih parah dari kesialan-mu!”

Lelucon ini pantas untuk direnungkan. Adalah biasa jika ada seekor nyamuk masuk ke dalam mata. Tetapi bagaimana baju dapat terbang masuk ke dalam mata? Sebenarnya adalah kata-kata yang melebih-lebihkan. Tetapi di sisi yang lain, bukan hanya baju; tetapi mobil, rumah dan apa saja di dunia ini dapat melintas dan malah terbang masuk ke mata kita.

Kebanyakan orang mungkin pernah mengalami hal ini sebelumnya. Saat pandangan kita tertarik kepada sesuatu, kita tidak mampu melupakannya. Kadang-kadang, kita demikian tertarik kepada sesuatu ataupun seseorang sehingga bayangan mereka muncul berulang-ulang. Ini adalah sesuatu yang sangat umum terjadi sebagai akibat dari kita hidup di dalam sebuah dunia yang demikian berwarna, merangsang dan penuh dengan godaan terhadap mata kita. Karena mereka memulai segala jenis hasrat, mata kita tiada henti mengganggu kita dan menyebabkan berbagai permasalahan dan kegelisahan.

Kita terus mencari kedamaian dan kesentosaan. Tetapi keenam hasrat menciptakan demikian banyak kekacauan di dalam diri kita, dan kedamaian hati kita tiada henti terganggu. Keenam hasrat muncul dari interaksi yang terjadi melalui keenam organ indera (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dan otak). Keenaam organ indera membentuk enam kesadaran yang menimbulkan keenam hasrat bila terjadi kontak dengan enam kondisi eksternal. Bila enam hasrat muncul, pikiran bodoh dan menyimpang akan terbangkit. Sehingga hati manusia tidak akan merasa tenang. Dikatakan :

Apabila tidak dapat melihat, maka hati tidak akan menjadi bingung

Apabila tidak mampu mendengar, maka hati tidak akan gelisah

Pada Buku Mencius bab 6A ( no. 15 ), percakapan berikut terjadi antara Mencius dan muridnya Gong Du Zi ( Kong To Cu ) :

  • Kong To Cu bertanya, “Semuanya adalah manusia, mengapakah ada yang menjadi orang besar (berkebajikan) dan ada yang menjadi orang kecil (tidak satria)?”

Bing Cu menjawab, “Orang yang menurutkan bagian dirinya yang besar (inspirasi akan kebenaran) akan menjadi orang besar, yang hanya menurutkan bagian dirinya yang kecil (perasaan) akan orang kecil.”

  • “Semuannya adalah manusia, mengapa ada yang mendengarkan inspirasi akan kebenaran dan ada yang menurutkan perasaannya?”

“Telinga dan mata yang tanpa dikendalikan pikiran, niscaya akan tertarik oleh dunia fisik (nafsu-nafsu dari luar). Saat terjadi kontak antara mata dan telinga dengan objek eksternal ini, mereka terpaku dan kita mulai mengalami godaan.

Jika kita merenungkan hal ini di dalam hati, kita akan peroleh manfaat. Jika kita tidak merenungkannya, kita tidak akan mendapat manfaat apa-apa.

Mata, hidung, dan hati adalah merupakan karunia dari Tuhan.

Jika kita merenungkan esensi kebenaran di dalam hati, sifat dan perasaan orang kecil tidak akan mengganggu ketenangannya ataupun mengacaukannya dari tujuan.

Inilah jalan orang yang berkebajikan.”

Perbedaan antara orang yang hidup dalam kebajikan dan orang yang berhati kerdil terletak pada sumber dari tindakan dan ucapannya. Jika organ indera kita mengalami kontak dengan kondisi eksternal, mata terpana pada penampilan, telinga terpesona kepada suara, hidung tergoda oleh rasa, lidah dipuaskan oleh rasa, tubuh disenangkan oleh sentuhan, dan kesadaran digoyahkan oleh berbagai ide. Inilah saatnya nafsu dan hasrat muncul. Jika dikuasai nafsu dan pikiran yang ceroboh kita hanya akan hidup untuk kepuasaan fisik dan menghabiskan waktu kita dalam kesenangan hidup yang materialistis. Sifat kita yang terang kemudian akan dilukai dan ternodai. Inilah tingkatan pikiran orang yang diperbudak oleh bentuk.

Hati adalah tuan bagi badan. Kita seharusnya bertindak dari dalam hati, mengendalikan dorongan hati dan menghindari godaan. Selalu memelihara hati yang tulus. Hilangkan semua pikiran yang tidak satria dan bersikap hormat. Sehingga sifat surgawi kita akan dalam kedamaian. Inilah sifat dari seorang satria (pembina diri). Seorang pembina diri yang bijak mengtranformasikan keenam alat perasa menjadi pelayan yang di bawah pengendalian sifat sejatinya. Sebaliknya seorang awam biasa membiarkan keenam alat perasa menjadi enam pencuri terhadap dirinya, mengakibatkan terganggunya ketenangan hati dan terlukainya sifat Tuhan. Pada dasarnya hati masing-masing orang mempunyai esensi yang sama, namun ada perbedaan yang demikian besar pada karakternya. Ini semua berasal dari dasar yang berbeda di balik tindakannya.

Dalam Kebijaksanaan Akar Tumbuh tertulis :

Pendengaran dan Pandangan adalah pencuri bagian luar,

Emosi dan Kesadaran adalah pencuri bagian dalam.

Bila hati dalam keadaan sadar dan benar-benar ada,

Duduk sendiri di tengah-tengah ruangan,

Pencuri-pencuri ini menjadi anggota yang berguna.

Ajaran Buddha mengajarkan ‘ketenangan dari 6 indera’. Confusius menekankan tentang ‘Empat Larangan’, yang isinya yaitu : “Jangan melihat yang tidak boleh dilihat, jangan mendengar yang tidak boleh didengar, jangan membicarakan yang tidak boleh dibicarakan, jangan melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan.” Dalam ajaran Tao: “Ketenangan sebagai hasil dari tidak melekatnya kita terhadap perbuatan seseorang.” Ketidakmelekatan ada bila presepsi kita dikendalikan, bila perbuatan melihat, mendengar, berbicara dalam situasi dan waktu yang tepat, dan tidak tercemar oleh pengaruh luar. Kita lebih suka melihat hal-hal yang indah dan tidak suka melihat yang jelek. Kita suka mendengar pujian tapi dengan mudah kita beragumen bila kita dikritik. Menggunakan indera kita untuk hal-hal diatas akan mengarahkan kita pada kecemasan-kecemasan yang tak terhitung yang akan menyiksa tubuh dan pikiran kita, dan akan menambah beban karma kita.

Saat kita menerima petunjuk sejati dari guru penerang, Sifat alamiah/sejati kita mulai dapat mengatur indera-indera kita. Dia mengambil tempat dipusat, mengarahkan indera-indera kita pada arah yang benar. Confusius berkata : “Mengekang keinginan-keinginan kita untuk kembali pada yanag sebenarnya.” Buddha bersabda, “Biarkan Buddha di dalam diri kita yang mengatasi tekanan karma.” Taoisme menekankan pentingnya memahami diri sendiri untuk mengatasi diri sendiri. Semua ini berarti bahwa sifat sejati kita yang mengatur tubuh kasar kita dapat mengikuiti petunjuk-petunjuk ini, kemelekatan kita akan runtuh dan kita dapat memasuki dimensi tenang abadi.

Dijelaskan dalam Sutra Hati dituliskan :

‘……… tidak ada bentuk, tidak ada persepsi, tidak ada pikiran-pikiran, tindakan-tindakan atau kesadaran;

tidak ada mata, tidak ada telinga, tidak ada hidung, tidak ada lidah, tidak ada tubuh, dan tidak ada pikiran.

Tidak ada benda, tidak ada suara, tidak ada bau, rasa, sentuhan atau ide-ide;

Tidak ada dimensi berbentuk dan tidak ada alam bawah sadar………’

Dalam kitab Chin Cing Cing, kitab tentang ketenangan, Lao Zi menulis :

Seseorang yang mempertahankan ketenangan ketenangan dapat menyatu dengan surga dan bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.