MAU MENCOBA DAGING ?

Siang hari tanggal 10 april 1820. Awan gelap menutupi matahari. Tiba-tiba awan tersebut terpecah dan hujan tertuang jatuh dari angkasa. Kilat dan petir memenuhi angkasa. Pejalan kaki panik mencari tempat  berteduh.

Salah satu dari mereka menjerit lalu terjatuh, dia telah tersambar petir! Dia masih hidup, tetapi tubuhnya luka bakar. Bau daging yang terbakar itu memenuhi udara. Dia meringkuk kesakitan. Seluruh tubuhnya tergetar, dan air mata terus mengalir dari matanya. Nanah mengalir dari lukanya. Pemuda itu membuka matanya dan melihat ke arah bagian tubuhnya yang terbakar, dimana dagingnya yang terbakar lalu mencuat keluar. Dia menarik dagingnya lalu memasukkannya ke mulutnya. Orang-orang yang melihatnya amat terkejut dan ketakutan.

Tetangganya berusaha mencegahnya, “Fan Tengshan! Apakah kau sadar apa yang sedang kau lakukan? Hentikan perbuatan itu!”

“Mmm daging yang lezat,” katanya, “Daging lezat. Mau mencoba?”

Sampai saat ini, kebanyakan orang yang melihatnya menjadi pucat dan ketakutan. Beberapa orang yang lebih tabah dan berani memanggil keluarganya dan mengantarnya ke rumahnya.

Dia tidak segera meninggal. Dia menderita sakit selama beberapa bulan. Pada saat dia meninggal, hanya tersisa sedikit daging yang menempel pada tulangnya.

Seorang gadis kecil yang tinggal di sebelah rumah Fan bertanya pada ibunya, “Saya tahu Tuan Fan adalah orang yang kejam dan sering berselisih dengan semua orang. Dia selalu mencari gara-gara dengan orang lain, tetapi mengapa dia meninggal dengan amat sengsara seperti itu?”

Ibunya menjelaskan, “Fan Tengshan adalah tukang daging yang terkenal dari daerah Taohsi. Dia selalu mengatakan dia menjadi tukang daging karena dia amat suka makan daging.”

“Dia selalu duduk di toko dagingnya sambil makan daging, dan berkata pada pelanggannya, daging yang lezat. Mau mencoba?”

“Dia amat kaya, bukan?” tanya gadis kecil itu.

“Ya, amat kaya. Dia selalu berpikir bahwa dia akan menghasilkan banyak uang. Dia berkata bahwa dia tidak akan menjadi miskin selama masih ada sapi untuk dipotong.”

“Apa gunanya banyak uang untuk dirinya? Jika saja dia lebih banyak berbuat baik, kejadian ini tidak akan menimpa dirinya.”

“Apakah ini sebabnya kita tidak pernah makan daging, Bu?”

“Ya, karena saya tidak ingin kejadian seperti ini menimpa salah satu keluarga kita. Itulah sebabnya saya tidak pernah menyakiti binatang. Itulah cara terbaik untuk menghindarkan diri dari malapetaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.