PERANGKAP

Pada suatu daerah di India, penduduk membuat sebuah perangkap untuk menangkap kera. Mereka mengikat salah satu ujung tali ke leher sebuah botol dan ujung lainnya ke batang pohon. Ke dalam botol dimasukkan buah. Bila kera melihat buah yang di dalam botol, ia akan memaksa memasukkan tangannya melalui leher botol untuk mengambil buah. Tetapi begitu buah berada di dalam genggaman, kera terperangkap, karena tangannya yang terbuka terlalu besar untuk keluar dari leher botol. Sebenarnya tangan kera dapat saja keluar bila ia melepas kembali buah di genggamannya, tetapi, sangat sedikit yang akan melakukan demikian. Demikianlah mereka tertangkap, terperangkap dalam nafsu bodoh mereka sendiri.

 

Ada satu sajak Mandarin tertulis sebagai berikut :

            Arak, sex, kekayaan dan kemarahan adalah empat tembok besar.

            Banyak orang, pria maupun wanita terjebak didalamnya.

            Yang mampu meloncat keluar dari tembok ini adalah dewa-dewi.

 

Suatu ketika manusia mempunyai kehidupan yang sepanjang langit dan bumi. Mereka menemani para bijak-suci. Mereka hidup damai berdampingan dengan semua makhluk yang lain dalam kebebasan dan keharmonisan. Namun kemudian kita dikelilingi dan terjerat oleh ke-empat tembok, terkurung dan tidak mampu untuk menyelamatkan diri. Hati yang muncul dari kesadaran nurani menjadi kabur karena hati semakin dipenuhi hasrat. Memuaskan kebutuhan dan keinginan badaniah yang berlebih adalah sama seperti berlari di atas treadmil  (Jentera). Kita menghabiskan banyak usaha tanpa hasil yang benar-benar berarti. Dalam keadaan demikian, kita akan tetap saja dipenuhi keraguan dan tidak tercerahkan.

 

Confusius menyebut keempat tembok ini sebagai arak, sex, kekayaan dan kemarahan. Tetapi sebenarnya banyak hal lainnya yang menjadi pembentuk tembok, misalnya keserakahan, kebencian, kebodohan jiwa, dan kemelekatan romantis; suara, wujud luar, benda materi, keuntungan duniawi; makanan, minuman, dan kesenangan. Sebelum memasukkan tangannya, si kera mempunyai hidup yang bebas. Mengapa dia terperangkap? Karena keserakahan yang muncul di dalam hatinya saat melihat buah yang di dalam botol. Hatinya telah dipenuhi nafsu dan kemelekatan. Dapat dikatakan hatinya telah terjerat jauh sebelum raganya tertangkap.

 

Dalam Kebijaksanaan Akar Tumbuhan dikatakan kepada kita:

Keberuntungan yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, dan rezeki yang diperoleh tanpa alasan adalah umpan yang dikirimkan oleh sang pencipta ataupun perangkap licik yang disiapkan orang lain bagi kita.

Jika tidak pernah mengharapkan keuntungan yang tidak realistik, maka tidak akan terperangkap dalam perangkap ini.

 

Dunia penuh perangkap, terutama umpan terhadap kelemahan, dan kebiasaan buruk kita. Orang yang memandang jauh ke depan akan melihat jelas perangkap ini, sehingga keserakahan tidak muncul di dalam hati dan tidak menghadapi bahaya tertangkap. Di dunia yang penuh perangkap dan jebakan, dia akan tetap berjalan tanpa terganggu atau terlukai sepanjang perjalanan hidupnya. Tidak tergoda oleh nafsu, dia tetap berada di jalan yang tinggi dan lurus yang memimpin dia secara cepat dan langsung menuju tujuan.

 

Dalam Matius 19: 23-24 dikatakan

Yesus mengatakan kepada muridnya, “ Saya sampaikan kepadamu kebenaran ini, adalah sulit bagi orang kaya untuk memasuki kerajaan surga. Sekali lagi saya katakan padamu, adalah jauh lebih mudah bagi seekor unta untuk memasuki lubang jarum daripada seorang kaya untuk memasuki kerajaan surga”.

 

Cerita ini mempunyai latar belakang yang sangat menarik dan ia menyampaikan suatu kebenaran yang mendalam dan sangat berarti. Di Yerusalem ada suatu pintu masuk yang sangat sempit, dinamai sebagai lubang jarum. Jika seekor unta yang membawa beban akan memasuki gerbang ini, ia harus terlebih dahulu berlutut, dan semua barang dan bebannya harus terlebih dahulu dibongkar. Hanya dengan demikian ia akan bisa melewati gerbang dan memasuki kota. Dari cerita ini kita dapat mengambil dua hikmah: 

  1. Setiap orang harus mempunyai sikap hormat dan rendah hati. Sebagai unta jika menolak untuk berlutut tidak akan bisa memasuki kota. Demikian juga orang yang sombong dan arogan tidak akan bisa memasuki kerajaan surga. Pintu masuk kerajaan surga sedemikian sempitnya sehingga orang yang ber’kepala’ besar tidak akan bisa memasukinya.
  2. Untuk memasuki kerajaan surga, kita harus membebaskan diri dari kemelekatan terhadap benda-benda keduniawian. Bukan hanya harus berpandangan jauh, namun juga bebas dari kemelekatan, sama seperti unta yang harus dilepaskan semua bebannya.

 

Jika hati kita penuh dengan kemelekatan dan urusan duniawi, mata nurani-spiritual kita tertutup dan tidak dapat melihat kebenaran dengan jelas.

 

Saat Yesus meminta muridnya untuk menjual semua yang mereka miliki bukan berarti hanya mereka yang miskin akan diselamatkan. Adalah karena tindakan seperti ini mengingatkan kepada kita bahwa untuk melihat jalan menuju ke surga kita harus memutus kemelekatan terhadap status diri dan kekayaan. Sekali lagi mengutip Kebijaksanaan Akar Tumbuhan :

Jalan menuju kebenaran adalah lebar

Jika hati kita dalam keadaan bebas, maka pandangan akan menjadi luas dan terang

Jalan hasrat duniawi demikian sempit

Apabila memilih jalan ini, yang terlihat hanya lumpur dan duri.

 

Mengapa kita tidak menggunakan jalan yang rata dan menjalaninya dengan hati yang riang? Mengapa memaksa memasuki jalan penuh nafsu duniawi yang gelap dan penuh kekusutan? Bukan hanya kita akan ternodai oleh kotornya jalan ini, namun kita juga kehilangan kebebasan untuk bergerak. Mari lepaskan rantai yang melilit dan tinggalkan keterikatan kita dibelakang. Secara sederhana bungkus beberapa kebutuhan mendasar saja dan segera dengan bebas memasuki jalan kebenaran, memandang seperti elang di langit biru yang membentang luas, jauh di atas debu duniawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.