Di Atas Langit Masih Ada Langit

Dahulu kala, di Ibukota Jepang kuno; yaitu di Nara, terdapatlah seorang laki-laki yang jago membual. Karena bualannya itulah iamenjadi terkenal di seluruh Ibukota.

Karena kepiawaiannya dalam membual sudah tidak ada yang menandingi di seluruh ibukota, maka ia mulai melakukan perjalanan ke seluruh negeri. Tujuan perjalanannya itu adalah untuk bertanding membual dengan jago-jago membual di negeri lainnya.

Dalam perjalananya ke arah timur, akhirnya ia sampai di sebuah daerah terpencil. Saat itu ia tiba di sebuah pangkal jalan yang terdiridari dua jalan. Di jalan sebelah kanannya terdapat sebuah papan penunjuk jalan. Di papan tersebut tertulis: “Jalan ini menuju ke arah Desa Pembual”

Setelah membaca papan penunjuk jalan itu, Ia sangat terkejut. Ternyata ada juga yang namanya Desa Pembual! Dengan bersemangat la akhirnya memillih jalan tersebut. Beberapa saat ia melangkah, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang dekil. Anak tersebut berpakaian kotor dan kelihatannya sedang asyik bermain dengan seekor serangga. Laki-laki itu lalu menyapanya.

“Hei, Nak. Aku datang jauh-jauh dari ibukota Nara untuk menantang adu membual. Ayo antarkan aku ke ke desa mu!” kata laki-laki itu. Di desa tidak ada orang. Ayahku pun tadi pagi pergi Ke gunung Fuji dengan membawa tiga batang Hio. Ia baru pulang nanti malam katanya.” jawab Sang Anak.

“Tiga batang Hio? Untuk apa?”

“Kata Ayah, ia diminta orang-orang untuk meredakan ledakan gunung Fuji”!

“Wah, meredakan ledakan Gunung Fuji hanya dengan tiga batang hio” hebat sekali. Kalau ibumu, ada?”

“Ibu juga tidak ada. Ibu sejak kemarin dengan membawa tiga genggam dedak ke danau Biwa?” Tanya laki-laki itu lagi.

“Untuk apa membawa tiga genggam dedak ke danau Biwa?” tanya laki-laki itu lagi.

“Katanya, ia diminta orang-orang disana untuk menambal tanggul danau Biwa yang bocor.” kata Sang Anak sambil bermain-maindengan serangga kecilnya.

Mendengar jawaban-jawaban anak kecil itu, laki-laki yang menyebut dirinya sebagai Pembual Nomor Satu dari ibukota Nara sangat terkejut. Ia berpikir keras, pertanyaan apa yang, kira-kira dapat menghentikan bualan anak kecil itu.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya laki-laki itu menemukan sebuah pertanyaan yang bagus.

“Oya! maksud dari kedatanganku kemari juga ingin menanyakan sesuatu. Seminggu yang lalu terjadi badai yang sangat dahsyat diibukota Nara. Badai itu. Menerbangkan lonceng di kuil Todaiji yang sangat terkenal itu. Kata orang-orang, badai itu menerbangkan lonceng kuil ke arah timur. Mungkin raja lonceng itu jatuh di sekitar sini. Nah, apakah kamu mengetahui keberadaan lonceng itu?” tanya laki-laki itu.

“Ooh, lonceng itu yang kau maksud? Tiga hari yang lalu, ada sebuah lonceng besar jatuh di atas lumbung padiku. Lonceng itu merusak sarang laba-laba yang ada di pojok lumbung padi. Akibatnya selama tiga hari berturut-turut mereka menangis tiada hentinya. Kini entah dimana lonceng itu berada. Mungkin diterbangkan badai ke arah barat!” kata sang anak dengan mimik serius.

“Oh, begitu ya? Terima kasih atas keteranganmu. Permisi.” Kata sang laki-laki seraya beranjak meninggalkan tempat itu. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang anak kecil yang jago membual. Pantas saja desa tersebut disebut sebagai desa pembual.

Note : Janganlah Anda mengganggap diri Anda hebat tetapi Anda tidak mengetahui sebenarnya masih banyak orang yang lebih hebat dari Anda, oleh sebab itu kita harus selalu merendahkan hati kita di dalam kondisi apapun.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.