Ibu Yang Mulia Di Balik Kegagahan Seorang Jendral (Yue Fei)

Jenderal Yue Fei adalah seorang panglima yang gagah berani dan berjiwa luhur dari dinasti Sung (1103-1141) dan sangat terkenal dengan kepahlawanan dalam sejarah Tiongkok.

Sejak berusia muda belia ayahnya sudah tiada, dan tinggallah ibunya yang begitu menyayangi dan mendidiknya dengan baik. Yue Fei sangat beruntung, karena mendapat didikan tegas dan baik dari ibunya, yang selalu memberi petunjuk kepada Yue Fei yang bersikap gagah berani dan suka ilmu silat. Selain itu, Yue Fei juga mempelajari sastra dan banyak mempelajari buku-buku.

Selain itu, Yue Fei pernah berguru pada seorang panglima yang sangat terkenal pada masa itu, yaitu Chou Tung. Sang Guru, selain melatih ilmu silat, juga menasehatinya untuk banyak belajar, karena kalau hanya mengandalkan silat saja tidak dapat menjadi seorang panglima yang bijaksana”.

Waktu itu, negara Sung sedang dilanda banyak kekacauan dan pemberontakan yang membuat rakyat ketakutan dan menderita. Tentara-tentara pengacau berbuat sewenang-wenang dan menindas rakyat sehingga negara tidak aman dan rakyat pun tidak tenang hidupnya.

Maka penduduk diwajibkan memberikan bantuan pangan untuk tentara kerajaan, juga negara mewajibkan setiap keluarga yang mempunyai anak laki-laki, ikut masuk dalam wajib militer untuk membela negara.

Yue Fei adalah anak tunggal dan dia mesti menjaga dan merawat ibunya, menurut aturan seharusnya dia diperbolehkan tidak ikut wajib militer, tapi Yue Fei sejak kecil bersifat gagah dan berjiwa luhur, oleh sebab itu, dia sangat memahami bahwa saat negara dalam kekacauan, seorang warga negara harus ikut memikul tanggung jawabnya.

Yue Fei sangat berkeinginan untuk ikut membela negara, karena jiwa besar dan kemampuan yang dimilikinya. Yue Fei sungguh seorang anak yang berbakti. Dia sangat mengkhawatirkan ibunya yang sudah tua. ”Kalau saya pergi, siapa yang akan menjaga dan merawat ibu?” pikirnya.

Oleh sebab itu, Yue Fei sering bersusah hati dalam menentukan pilihan antara negara dan ibunya. Namun ibunya yang arif dapat mengetahui apa yang sedang Yue Fei pikirkan dan meminta Yue Fei menceritakan semua kesusahan hatinya.

Yue Fei pun berlutut dihadapan ibunya dan berkata, “Negara sedang di dalam kesusahan. Semestinya semua lelaki ikut membela negara. Tapi saya, Yue Fei, meskipun mempunyai kemampuan, tetapi tidak bisa menunjukkan kesetiaan kepada negara. Sungguh pilu hati ini!”.

Ibunya mendengar perkataan ini, langsung menjawab ,”Baik sekali! Kalau kamu mempunyai hati mencintai negara, mengapa masih ragu-ragu berada di sini ?”.

“Saya khawatir ibu sendirian tidak ada yang menjaga, oleh sebab itu, saya tidak tenang meninggalkan ibu,”jawab Yue Fei.

“Aih, anak bodoh, tahukah kau bahwa bila negara hancur, mana ada ibu lagi? Kalau kamu sudah menyelamatkan negara dari kesusahannya, bukankah sama dengan menyelamatkan ibu? Lagipula ibu masih mampu menjahit untuk menyambung hidup dan cukup untuk kebutuhan diri sendiri”, ibunya menasehati dengan lembut tapi tegas, dan melanjutkan,”kamu masih tunggu apalagi? Sekaranglah saatnya membalas budi jasa negara, cepatlah bersiap!”.

Sebelum berangkat membela negara, Yue Fei berkata kepada ibunya,”Bu, saya sekali ini pergi, entah kapan baru kembali menjumpai ibu, saya mengharapkan ibu memberikan suatu petunjuk untuk dijadikan pegangan bagi saya!”.

Sesudah berpikir sejenak, ibunya berkata dengan lembut, “Anakku, ibu tidak mengkhawatirkan dirimu, tapi yang dikhawatirkan adalah kamu yang selalu memikirkan dan mengkhawatirkan ibu. Sehingga, ditakutkan, hati dan konsentrasimu terpecah dalam tugas, dan ibu berpikir ingin membuat 4 huruf di belakang punggungmu, semoga kamu selalu ingat 4 kata itu dan maju terus dalam berjuang!”.

Maka sang ibu yang arif pun mengukir tato dengan jarum dan minyak, setitik demi setitik menuliskan 4 huruf dibelakang punggung Yue Fei dan Yue Fei dengan senang hati menerima tato huruf di punggungnya seolah-olah tidak merasakan sakitnya.

Empat huruf itu menjadi sangat terkenal dan seakan melekat dalam diri Sang Jenderal yang gagah dan berjiwa luhur itu, yaitu “JIN ZHONG BAO GUO ( SEGENAP HATI SETIA DAN MEMBELA NEGARA).”

Yue Fei begitu gagah berani membela negara dan membebaskan rakyat dari penderitaan dan kesengsaraan. Sampai-sampai tentara pengacau sangat takut sekali begitu mendengar tentara jenderal Yue Fei tiba. Di mana Yue Fei tiba, di situlah rakyat jelata menyambutnya dengan gembira.

Sungguh disayangkan! Saat itu ada seorang menteri yaitu, Chin Kuai yang culas dan sangat jahat ,serta iri hati dan tidak senang pada keberhasilan Yue Fei, berhasil membujuk raja dan menjatuhkan hukuman mati.

Yue Fei pun meninggal dalam usia 37 tahun. Rakyat sangat sedih dan marah mengetahui hal ini. Tetapi meskipun dijahati oleh pengkhianat, kebesaran dan nama harum Yue Fei tersebar ke mana-mana. Sampai sekarang pun orang-orang begitu menghormatinya.

Biara-biara Yue Fei tersebar di seluruh pelosok. Di daerah Han Chou-daratan Tiongkok, sampai sekarang pun masih berdiri dengan megahnya Biara Sang Pahlawan Yue Fei (Yue Huang Miao). Karena rasa kasih dan hormat yang besar oleh rakyatnya, maka diberikanlah gelar raja. Orang-orang kalau datang mengunjungi, pasti berdoa dan memuja monumen Yue Fei.

Yue Fei seorang yang berbakti dan patuh pada petunjuk ibunya: ”Dengan segenap hati dan kesetiaan dalam membela dan membalas negara”, dan mewujudkan hati sang ibu tercinta dengan sikap gagah berani membela negara dan rakyat.

Yue Fei menjadikan hati baktinya dalam menjalankan tugas mulia membela orang banyak.

Sungguh tepat perkataan Nabi Khong Cu :

Mengangkat dan mengharumkan nama orang tua, adalah wujud akhir dari bakti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.