Perbanyaklah kebajikan, kurangi kejahatan, karma tidak pernah ingkar janji.

Alkisah, adalah seorang tukang kayu yang hidup bersama istrinya di pinggir hutan. Meski sudah lama menikah, namun mereka belum punya anak.

Si tukang kayu itu punya kemampuan bisa mendengar suara-suara makhluk halus disekitarnya.

Suatu hari ia ke hutan mencari kayu bakar. Ketika sedang membelah kayu, tibatiba dia mendengar suara dua anak kecil.
“Hei, kamu mau kemana?”
“Saya mau ke rumah itu, saya mau menagih karma.”
“Oh, saya juga mau kesana, kalau saya mau bayar karma.”

Si tukang kayu hanya diam, melanjutkan pekerjaaannya seolah tidak mendengar apa-apa. Dia mengumpulkan kayu bakar yang sudah dibelah lalu pulang.

Setibanya di rumah, dia mendapati seorang tabib tengah memeriksa istrinya. Tabib mengatakan bahwa istrinya hamil anak kembar. Si tukang kayu berpikir “Ah, pastilah dua anak kecil tadi yang masuk ke rahim istriku.”

Sejak lahir, sudah tampak perbedaan mencolok diantara keduanya.
Yang sulung malas & nakal, yang bungsu rajin & penurut.
Si sulung terus menerus membuat masalah & keributan.

Banyak perbuatannya yang membuat si tukang kayu terpaksa harus menanggung malu.
Tukang kayupun berpikir “Pasti ini anak yang datang untuk menagih karma, makanya dia sering membuat aku susah & malu.
Baiklah, aku tidak mau anak ini terus menerus menagih karmanya sampai aku tua.”

Akhirnya si sulungpun diusir, tidak ada lagi yang membuat keributan. Si tukang kayu dapat hidup tentram & damai, mencurahkan seluruh harapan & kasih sayangnya pada si bungsu.

Namun tiba-tiba si bungsu jatuh sakit. Tukang kayu menghabiskan tabungannya untuk membayar tabib-tabib terbaik dan membeli obat terbaik, namun para tabib kebingungan mengobati penyakit langka yang diderita oleh si bungsu & akhirnya menyerah.

Tukang kayu menjual rumah serta seluruh harta bendanya, pergi keluar kota untuk mencari tabib lain. Tapi dia memperoleh jawaban sama, belum ada obat untuk penyakit itu. Tak lama kemudian, di tengah kemelaratan & keputus-asaan, si bungsu meninggal.
Tak terlukiskan lagi kepedihan & kekecewaan yang dirasakan si tukang kayu… Ternyata, inilah anak yang datang untuk menagih karma …

Tukang kayu sadar dia tidak bisa lari dari karmanya sendiri. Dulu dia berpikir, si sulung lah yang datang untuk menagih karma karena anak itu seringkali membuat masalah. Ia teringat kembali pada si sulung & merasa sangat menyesal.

Si sulung, setelah diusir dia pergi keluar kota mencari pekerjaan. Dia bekerja dengan sangat rajin, sehingga dalam waktu singkat berhasil menabung. Setelah tabungannya cukup, dia pulang untuk mencari orang tuanya.

Meskipun telah diusir, dia tidak dendam. Dialah anak yang datang untuk membayar karmanya. Dengan tabungan yang dia kumpulkan, dia membeli rumah baru & mereka hidup berbahagia.

Buah karma selalu ada disana, seperti buah yang tergantung pada cabang pohon menunggu kematangan pada waktu dan kondisi yang tepat.

Seberat apa karma yang berbuah, sesakit apa derita yang harus kita rasakan, tergantung dari berat karma yang telah kita lakukan, tidak lebih, tidak kurang.

Lalu apa yang harus kita lakukan?
Apakah tidak ada cara untuk menghapus karma?
Kita tidak bisa menghapus karma, tapi bisa membuatnya menjadi lebih ringan, bahkan tidak terasa buahnya.

Perbanyaklah berbuat kebajikan, menolong tanpa pamrih, bagaikan segelas air garam yang sangat asin, jika ditambah dengan air tawar terus menerus sampai mengalir keluar, lama kelamaan air yang asin akan habis & yang tersisa di gelas hanyalah air tawar saja.

Seperti itulah seharusnya yang dilakukan dalam kehidupan kali ini. Entah sudah berapa karma buruk yang telah kita lakukan. Dan di kehidupan ini seharusnya kita banyak berbuat bajik dan Melakukan pelayanan tanpa pamrih dengan cinta kasih.

Patut diingat, jika ada karma buruk yang berbuah, relakan saja & berpikirlah positif “Ah, karma burukku berkurang satu.”

Berbahagialah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.